Bahaya Bullying Verbal Yang Bisa Didapatkan Oleh Anak – Anak

Tindakan perundungan atau yang lebih dikenal dengan bullying bisa didapatkan dan dilakukan oleh siapa saja. Bentuk dari tindakan ini pun beragam baik fisik fisik maupun verbal. Perundungan atau bullying secara verbal inilah yang cukup membahayakan dan bisa berdampak panjang bagi yang mengalaminya. 

Bentuk dari bullying secara verbal seperti menggunakan sebutan, panggilan, atau pun menggunakan kata – kata yang tidak sepantasnya. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk merendahkan, meremehkan, mengintimidasi, bahkan menyakiti korban. Bullying secara verbal ini memberikan dampak yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan bullying secara fisik karena dapat memunculkan trauma. 

Anak – anak yang dianggap lemah atau terlihat berbeda dari yang lain sering dijadikan sebagai sasaran bullying. Menghina, memaki, memarahi, memfitnah, menuduh, hingga mempermalukan di depan umum menjadi contoh dari tindakan  verbal bullying yang biasa dilakukan kepada korban. Jika dibiarkan begitu saja, tindakan dari verbal bullying dapat memberikan dampak buruk seperti ini.

  1. Depresi

Salah satu dampak berbahaya yang didapatkan dari verbal bullying adalah depresi. Hal ini bisa terjadi karena dipicu oleh rasa tertekan yang dialami karena kata – kata atau sebutan diberikan kepada korban. Mudah marah, hilang rasa minat terhadap hal yang disukai, tampak sedih, murung dan putus asa merupakan ciri atau tanda umum dari depresinya seseorang.

  1. Merasa gelisah

Jika sudah menjadi korban bullying, perasaan gelisah, takut, tidak aman seringkali dirasakan terutama bila tidak sengaja bertemu dengan pelaku bullying. Hal ini pun terkadang bisa membuat anak menangis secara tiba – tiba.

  1. Pola tidur berubah

Pola tidur berubah juga termasuk dalam bahaya yang didapatkan dari bullying. Anak bisa jadi sulit tidur atau bahkan tidur secara berlebihan. Hal ini bisa menjadi salah satu cara anak untuk melupakan tindakan bullying yang diterima.

  1. Merasakan keluhan fisik

Meski bullying yang dilakukan berupa kata – kata tetapi tetap saja dapat dirasakan dampak fisiknya seperti jantung berdebar, mual, sakit kepala, sakit perut atau kondisi medis lainnya yang tanpa sadar terjadi. Biasanya keluhan fisik ini terjadi sebagai bentuk rasa takut atau cemas yang dirasakan.

  1. Nafsu makan berubah

Selain pola tidur yang berubah dan menjadi tidak menentu, perubahan nafsu makan pun dapat terjadi. Anak bisa menjadi lebih bernafsu makan hingga berlebihan sampai yang tidak ingin makan. Tentu saja hal ini akrena dipengaruhi gangguan psikiometris yang dialami anak.

  1. Senang menyendiri

Ketidaknyamanan yang dirasakan setelah menjadi korban bullying seringkali membuat anak nyaman untuk menyendiri. Dia lebih senang menjauh dan menghindar dari lingkungan sekitar, bahkan cenderung menarik diri dari kegiatan yang melibatkan banyak orang.

  1. Harga diri rendah

Jika verbal bullying yang didapatkan lebih kepada kata – kata yang menghina, meremehkan sampai merendahkan, tentu saja hal ini akan berdampak pada kepercayaan diri sehingga membuat anak merasa bila dirinya rendah dan tidak berharga. Kondisi seperti ini jika tidak segera ditangani dapat membentuk anak menjadi pribadi yang mudah minder dan tidak percaya diri pada kemampuan dan kelebihan yang dimiliki.

  1. Menyakiti diri sendiri

Hal buruk lainnya yang bisa didapatkan anak adalah menyakiti diri sendiri. Kondisi ini terjadi sebagai bentuk pelampiasan dari apa yang dirasakan dan bila terlambat untuk diketahui dikhawatirkan akan terbawa hingga dewasa dan dapat berakibat buruk, yaitu pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Dampak buruk dari verbal bullying dapat bertahan hingga dewasa secara tidak sadar. Hal ini bisa terjadi jika korban tidak memberitahukan kebenaran atau kejadian yang dialami sehingga penanganannya menjadi terlambat. Jadi, bila Anda merasakan perubahan perilaku dari sang anak, cobalah untuk mendekatkan diri dan mencari tahu penyebabnya serta bicarakan secara pelan – pelan. Anda bisa mengatasi dan mencegah tindakan verbal bullying dengan membangun kepercayaan dan keterbukaan dengan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *